BOLEHKAH GURU MENGIMBAU PELAJAR MEMAKAI MASKER DAN JILBAB

BOLEHKAH GURU MENGIMBAU PELAJAR  MEMAKAI MASKER DAN JILBAB

(Artikel ke-1261)

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

            Soal jilbab lagi-lagi dipersoalkan oleh sebagian kalangan. Dulu, di tahun 1980-an, banyak pelajar sekolah negeri dipecat karena mengenakan kerudung di sekolah. Kini, di tahun 2022, soal jilbab pun dipersoalkan. Gara-garanya ada guru yang mengimbau dan mengajak murid-muridnya mengenakan jilbab.

            Padahal, dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (3) jelas-jelas disebutkan: “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem Pendidikan Nasional yang meningkatkan keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-undang.”

            Definisi  orang yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia, adalah orang yang menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Mengenakan jilbab bagi muslimah adalah satu kewajiban. Menurut ulama internasional Yusuf Qaradhawi, di kalangan ulama sudah ada kesepakatan tentang masalah ‘aurat wanita yang boleh ditampakkan’. Ketika membahas makna “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali apa yang biasa tampak daripadanya” (QS 24:31), menurut Qaradhawi, para ulama sudah sepakat bahwa yang dimaksudkan itu adalah “muka” dan “telapak tangan”.

Imam Nawawi dalam al-Majmu’, menyatakan, bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya. Diantara ulama mazhab Syafii ada yang berpendapat, telapak kaki bukan aurat. Imam Ahmad menyatakan, aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajahnya saja.

Yusuf Qaradhawi menyatakan --  bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan – adalah pendapat Jamaah sahabat dan tabi’in sebagaimana yang tampak jelas pada penafsiran mereka terhadap ayat: “apa yang biasa tampak daripadanya.” (Dikutip dari buku Fatwa-Fatwa Kontemporer (Terj. Oleh Drs. As’ad Yasin), karya Dr. Yusuf Qaradhawi, (Jakarta: GIP, 1995), hlm. 431-436).

Itulah pendapat para ulama yang otoritatif. Jika ada pakar agama yang punya pendapat berbeda, maka jelas pendapat itu bisa dikategorikan ”aneh” dan patut diragukan kesahihannya.

            Jadi, sesuai dengan UUD 1945 mengenakan jilbab adalah suatu ibadah, sebagaimana halnya dengan melaksanakan shalat lima waktu, menjalankan puasa Ramadhan, membayar zakat, taat kepada orang tua dan guru. Mengenakan jilbab untuk menutup aurat adalah termasuk ibadah, dalam rangka usaha pembentukan insan yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia.

            Amanah pendidikan dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (3) itu tentu berlaku untuk semua lembaga pendidikan di Indonesia. Karena amanah itu ditujukan kepada pemerintah, maka yang lebih utama melaksanakannya adalah sekolah-sekolah negeri.

            Pertanyaannya, apakah bagi seorang muslimah, mengenakan jilbab untuk menutup aurat, itu satu bentuk ibadah kepada Allah SWT? Di sinilah perlunya pemerintah berkonsultasi dengan para ulama dan pakar Pendidikan dalam mengeluarkan peraturan soal seragam sekolah! Kaum muslimin memiliki ajaran yang jelas tentang aurat dan pakaian.

Lanjut baca,

https://member.adianhusaini.id/member/blog/detail/bolehkah-guru-mengimbau-pelajar--memakai-masker-dan-jilbab

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait