KESUNGGUHAN PAK NATSIR DAN SYED NAQUIB AL-ATTAS DALAM MENANGGULANGI SEKULERISME

KESUNGGUHAN PAK NATSIR DAN SYED NAQUIB AL-ATTAS DALAM MENANGGULANGI SEKULERISME

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

    Malam ini (19/9/2021), saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan paparan singkat tentang sosok dan pemikiran Prof. Syed Naquib al-Attas, menyambut usia beliau yang ke-90. Ada yang bertanya kepada saya, apa persamaan antara pemikiran Mohammad Natsir dengan Syed Naquib al-Attas. 
    Pertanyaan itu saya jawab melalui artikel ini. Salah satu persamaan penting kedua tokoh itu dalam soal pemikiran adalah kesungguhan mereka dalam upaya menanggulangi paham sekulerisme. Bisa dikatakan, sejak usia belasan tahun, Pak Natsir sudah aktif mengkritisi sekulerisme. Puncaknya, adalah pidatonya di Majelis Konstituante, pada 12 November 1957. Sampai menjelang akhir hayatnya, tahun 1993, Pak Natsir masih mengingatkan, umat Islam Indonesia menghadapi tiga tantangan dakwah, yaitu: sekulerisasi, kristenisasi, dan nativisasi. 
Dalam pidatonya di Majelis Konstituante, Mohammad Natsir mengajak bangsa  Indonesia untuk meninggalkan paham sekulerisme dan menjadikan agama sebagai dasar kehidupan pribadi, masyarakat, dan negara.  Pidato Pak Natsir itu masih sangat relevan untuk kita renungkan, demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik. 
Atas jasa-jasanya, Mohammad Natsir dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah RI pada tahun 2008. Berikut ini petikan pidato Mohammad Natsir. Secara singkat, Pak Natsir menyatakan: "Sejarah manusia umumnya pada tinjauan terakhirnya, memberikan kepada kita pada final analisisnya hanya dua alternatif  untuk meletakkan dasar negara dalam sikap asasnya (principle attitude-nya), yaitu: (1) faham sekulerisme (la-dieniyah) tanpa agama, atau (2) faham agama (dieny)… Apa itu sekulerisme, tanpa agama, la-dieniyah?
    Sekulerisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham tujuan dan sikap hanya di dalam batas hidup keduniaan. Segala sesuatu dalam kehidupan kaum sekuleris tidak ditujukan kepada apa yang melebihi batas keduniaan. Ia tidak mengenal akhirat, Tuhan, dsb. Walaupun ada kalanya mereka mengakui akan adanya Tuhan, tapi dalam penghidupan perseorangan sehari-hari umpamanya, seorang sekuleris tidak menganggap perlu adanya hubungan jiwa dengan Tuhan, baik dalam sikap, tingkah laku dan tindakan sehari-hari, maupun hubungan jiwa dalam arti doa dan ibadah. Seorang sekuleris tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai moral itu ditimbulkan oleh masyarakat semata-mata. Ia memandang bahwa nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah atau pun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata, dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam penghidupan saat ini belaka...
    Di lapangan ilmu pengetahuan, Sdr. Ketua, sekulerisme menjadikan ilmu-ilmu terpisah daripada nilai-nilai hidup dan peradaban. Timbullah pandangan bahwa ilmu ekonomi harus dipisahkan dari etika. Ilmu sejarah harus dipisahkan dari etika. Ilmu sosial harus dipisahkan dari norma-norma moral, kultur dan kepercayaan. Demikian juga ilmu jiwa, filsafat, hukum, dsb. Sekedar untuk kepentingan obyektiviteit. Sikap memisahkan etika dari ilmu pengetahuan ada gunanya, tetapi ada batas-batas dimana kita tidak dapat memisahkan ilmu pengetahuan dari etika…
    Ada satu pengaruh sekulerisme yang akibatnya paling berbahaya dibandingkan dengan yang saya telah sabut tadi. Sekuleris, sebagaimana kita telah terangkan, menurunkan sumber-sumber nilai hidup manusia dari taraf ke-Tuhanan kepada taraf  kemasyarakatan semata-mata. Ajaran tidak boleh membunuh, kasih sayang sesama manusia, semuanya itu menurut sekulerisme, sumbernya bukan wahyu Ilahi, akan tetapi apa yang dinamakan: Penghidupan masyarakat semata-mata. Umpamanya dahulu kala nenek moyang kita, pada suatu ketika, insaf bahwa jika mereka hidup damai dan tolong menolong tentu akan menguntungkan semua pihak. Maka dari situlah katanya timbul larangan terhadap membunuh dan bermusuhan.
     Kita akan lihat betapa berbahayanya akibat pandangan yang demikian. Pertama, dengan menurunkan nulai-nilai adab dan kepercayaan ke taraf perbuatan manusia dalam pergolakan masyarakat, maka pandangan manusia terhadap nilai-nilai tersebut merosot. Dia merasa dirinya lebih tinggi daripada nilai-nilai itu! Ia menganggap nilai-nilai itu bukan sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi, tapi sebagai alat semata-mata karena semua itu adalah ciptaan manusia sendiri..." (Silakan menyimak pidato lengkap Mohammad Natsir dalam buku: Mohammad Natsir, Agama dan Negara dalam Perspektif Islam, Jakarta: Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia).

Lanjut baca,

https://member.adianhusaini.id/member/blog/detail/kesungguhan-pak-natsir-dan-syed-naquib-al-attas-dalam-menanggulangi-sekulerisme

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait

Tinggalkan Komentar