KETUHANAN YANG MAHA ESA MENURUT KRISTEN

KETUHANAN YANG MAHA ESA MENURUT KRISTEN

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

            Dalam Kuliah Umum tentang Pancasila dan Piagam Jakarta, 22 Juni 2020 lalu, ada seorang peserta bertanya, bagaimana orang Kristen memahami sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Apakah itu tidak bertentangan dengan konsep Trinitas atau Tritunggal-nya kaum Kristen?

            Pertanyaan itu muncul, setelah saya menjelaskan bahwa menurut para tokoh Islam – seperti hasil Munas Alim Ulama NU di Situbondo tahun 1983 dan sejumah ulama lainnya – sila Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan arti Tauhid dalam ajaran Islam. Apalagi, ada catatan dari seorang penulis Kristen, I.J. Satyabudi,  dalam bukunya, Kontroversi Nama Allah: “Sangat jelas, Bapak-bapak Islam jauh lebih cerdas dari Bapak-bapak Kristen karena kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa” itu identik dengan “Ketuhanan Yang Satu”!”

Jika kaum muslim menyatakan, bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan Tauhid sesuai ajaran Islam, apakah kaum Kristen mengklaim bahwa sila pertama itu juga mencerminkan konsep Trinitas dalam agama Kristen?

Pendeta Dr. Eka Darmaputera  dalam bukunya,  Pancasila: Identitas dan Modernitas,  mengutip pendapat tokoh Kristen T.B. Simatupang yang lebih suka menarik penafsiran Pancasila kepada makna yang kabur.  “Kelima sila itu merupakan payung yang cukup lebar untuk semua orang. Tak seorang pun menaruh keberatan apa-apa terhadapnya; rakyat dapat menerimanya; kami semua dapat hidup bersama-sama di bawahnya,”  kata T.B. Simatupang. 

Menurutnya, orang dapat mengatakan bahwa prinsip-prinsip Pancasila adalah kabur, tetapi jelaslah bahwa “kekaburan” itu  justru merupakan kunci kekuatan serta efektivitasnya di dalam menghadapi kenyataan kemajemukan Indonesia.  Menurut Eka Darmaputera, walaupun Islam adalah agama mayoritas penduduk Indonesia, tetapi Islam tidak dapat menjadi pilihan lain dari Pancasila. Begitu juga dengan sekularisme. 

“Upaya untuk menggantikan Pancasila dengan dasar sekuler juga telah beberapa kali terjadi, misalnya oleh orang-orang komunis. Dasar sekuler hampir-hampir merupakan sesuatu yang tak terbayangkan bagi penduduk Indonesia yang mempunyai tradisi orientasi religius yang kuat,” tulis Eka Darmaputera.

Lanjut baca,

http://member.adianhusaini.id/member/blog/detail/ketuhanan-yang-maha-esa-menurut-kristen

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait

Tinggalkan Komentar