MENANAMKAN TAUHID DI SAAT AGAMA DISINGKIRKAN

MENANAMKAN TAUHID DI SAAT AGAMA DISINGKIRKAN

 Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Pada hari Ahad (26/6/2022), saya mengisi kajian bulanan di Masjid Darussalam Kota Wisata, Cibubur. Temanya: Belajar Pendidikan dari Kisah Luqman al-Hakim. Al-Quran memberikan contoh Luqman al-Hakim sebagai teladan dalam mendidik anaknya (QS Luqman:12-19).

Luqman telah mendapatkan hikmah dari Allah, yang dengan itu, ia bisa menerapkan pendidikan yang tepat pada anaknya. Nasehat-nasehat Luqman memberikan pelajaran berharga tentang adab ini, dimulai dari adab kepada Allah SWT: “Wahai anakku, jangan menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar!”

 Syirik disebut zalim karena tidak “meletakkan” Allah pada tempatnya, sebagai al-Khaliq. Syirik itu hakekatnya merendahkan martabat Allah, karena disetarakan dengan makhluk. Karena itu, riya’  disebut sebagai “syirik kecil” sebab mempersembahkan amal perbuatan kepada makhluk; mengharapkan pujian dari makhluk. Padahal, seharusnya, amal ibadah dipersembahkan kepada al-Khaliq, dan hanya mengharap pujian dan ridha dari al-Khaliq, Allah SWT.

Ada kondisi yang perlu dipikirkan di tengah masyarakat modern saat ini, dalam kaitan adab kepada Allah dan sesama manusia. Pemerintah dan banyak kalangan orang cerdik pandai berbicara tentang korupsi, membenci dan mengecam korupsi.

Mereka bicara tentang kemanusiaan; tentang kezaliman pada sesama manusia. Korupsi adalah bentuk kezaliman kepada rakyat, karena hak rakyat atas hartanya dirampas oleh penyelenggara negara. Itu korupsi namanya. Korupsi harta itu zalim, dan harus dijatuhi sanksi yang berat, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Menzalimi sesama manusia pun merupakan tindakan kejahatan. Pelakunya akan dikejar pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia, tetapi sampai ke akhirat. Jika urusannya tidak tuntas di dunia, maka orang  yang terzalimi akan mendapatkan limpahan pahala dari pihak yang menzalimi.   

Yang perlu direnungkan adalah, mengapa begitu banyak dan semangat orang-orang bicara tentang korupsi dalam soal harta pada sesama manusia, tetapi, yang aneh, banyak orang  muslim enggan bicara tentang “korupsi iman” dalam bentuk kemusyrikan, yang sejatinya merupakan bentuk kezaliman kepada Allah SWT.

 Orang musyrik telah merampas hak Allah, sebagai satu-satunya Dzat Yang berhak disembah, ditaati aturan-aturan-Nya, dan yang paling berhak untuk dicintai melebihi apa pun (QS at-Taubah:24).  Maka, pada hakikatnya, sungguh aneh, jika manusia dikecam karena merampas hak sesama manusia, tetapi justru dibiarkan untuk merampas hak Tuhan, dan difasilitasi untuk menyebarkan paham-paham yang melecehkan kedudukan Tuhan.

“Katakanlah: jika ayah-ayahmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, semua itu lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS at-Taubah:24).

Itulah adab kepada Allah!  Meletakkan kecintaan kepada makhluk lebih tinggi saja di atas kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya, itu sudah mendapatkan ancaman serius dari Allah. Sebab, itu tindakan yang tidak pantas, tidak punya sopan santun kepada Allah SWT.  Bagaimana mungkin, manusia yang tidak punya apa-apa, lalu merasa memiliki dirinya, dan merasa leluasa menggunakan apa pun miliknya sesuai kehendak hawa nafsunya.  Di zaman ini,  bisa dengan mudah dijumpai manusia-manusia yang tidak punya adab kepada Tuhan-nya dan bahkan berani menantang Tuhan Yang Maha Esa. 

Lanjut baca,

https://member.adianhusaini.id/member/blog/detail/menanamkan-tauhid-di-saat-agama-disingkirkan

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait