Artikel Terbaru ke-2.274
Oleh: Dr. Adian Husaini
Cobalah tanyakan kepada anak-anak kita di sekolah-sekolah Islam! Siapakah yang menyatukan Nusantara? Mungkin akan banyak yang menjawab: Gajah Mada, patih Kerajaan Majapahit. Inilah satu contoh materi ajar pembelajaran Sejarah untuk anak-anak Muslim, sehingga mereka memiliki pemahaman tertentu tentang Majapahit.
Padahal, ada Majalah Hindu yang justru mengkritik upaya pemujaan terhadap Majapahit secara berlebihan. Majalah Hindu Raditya, edisi September 2008, menurunkan laporan utama yang mengkritik pengagungan Majapahit.
Disebutkan dalam majalah tersebut: “Majapahitisme atau keterpesonaan terhadap Hindu di zaman Majapahit tidaklah ideal. Pertama, karena pada masanya saja, masyarakat Hindu Majapahit gagal mempertahankan eksistensinya, gara-gara lebih banyak terlibat konflik internal bikinan elite Majapahit ketika itu. Siwa-Budha kala itu pun tidak bisa berperan banyak dalam mewujudkan masyarakat yang rukun, tat twam asi dan sejenisnya. Majapahit selain berhasil menundukkan banyak daerah bawahan, juga sibuk perang saudara. Agama di dalam masyarakat seperti ini lebih menjadi bersifat gaib, eksklusif, hanya untuk berhubungan dengan dewa-dewa yang abstrak. Agama Siwa Budha meskipun sudah menjadi agama kerajaan tidak bisa diamalkan oleh elite di sana yang lebih dikuasai motif politik, motif perebutan kekuasaan. Agama gagal menginspirasi kehidupan sehari-hari tentang hal-hal lebih praktis menyangkut pola interaksi antarindividu…Jika Majapahit meninggalkan hal-hal pahit bagi penganut Hindu ketika itu, lantas apa enaknya mengenang hal-hal pahit?”
Jadi, menurut majalah Raditya, impian untuk kembali ke Majapahit justru merugikan kaum Hindu sendiri. Analisis majalah Hindu ini menarik, sebab ini terkait dengan identitas nasional Indonesia yang sering dicitrakan identik dengan Hindu, Budha, dan Sansekerta. Jika ditampilkan Candi Hindu Prambanan dan Candi Budha Borobudur, maka itu dikatakan sebagai “identitas nasional”.
Sebaliknya, jika ditampilkan Masjid, maka seolah-olah dianggap bukan identitas nasional. Tengoklah ornamen-ornamen di Bandara Soekarno-Hatta dan banyak bandara lainnya! Bandara internasional itu dipenuhi dengan simbol-simbol Hindu-Budha yang dianggap sebagai simbol nasional. Tapi, tidak tampak simbol-simbol Islam, seperti kaligrafi ayat al-Quran, Masjid, bacaan doa, dan sebagainya.
Tentu umat Islam perlu menghormati jika identitas Hindu-Budha dijadikan sebagai warisan agama Hindu-Budha. Umat Islam dan umat beragama lainnya perlu menghormari identitas agama dan budaya masing-masing agama. Majapahitisme, yakni paham pengagungan Majapahit, selama ini diajadikan sebagai materi ajar di sekolah-sekolah nasional.
Memang ada juga Majalah Hindu yang mengajak masyarakat Indonesia agar kembali ke agama Hindu, agar Indonesia menjadi negara besar. Majalah Media Hindu (Oktober, 2011) menyatakan: “Kembali menjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agama yang dapat memelihara & mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar untuk menjadi negara maju.”
lanjut baca,



