Kerusakan Moral Bangsa: Akibat Sistemik dan Jangka Panjang

Kerusakan Moral Bangsa: Akibat Sistemik dan Jangka Panjang

Kritik tajam dari Prof. Mahfud MD mengenai kondisi bangsa mendapatkan sorotan dan penegasan. Menurut Mahfud MD, kerusakan yang dialami Indonesia saat ini, khususnya terkait moral dan akhlak, telah menjadi persoalan kolektif dan sistemik.

adianhusaini.id, Jakarta-- Pernyataan ini diperkuat dengan pengakuan dari tokoh-tokoh penting yang menyoroti betapa parahnya kondisi ini, menuntun kita pada satu kesimpulan yang merisaukan: perbaikan bangsa harus dimulai dari akar masalah, yaitu kerusakan moral pada para ilmuwan dan ulama.

Prof. Mahfud MD menyampaikan bahwa meskipun ada figur-figur hebat dan bersih seperti almarhum Malik Fajar atau Mar’ie Muhammad (yang dinilai sangat bersih, jujur, takwa, iman, dan saleh), mereka ternyata tidak dapat menghilangkan korupsi di Kementerian Keuangan atau mengubah Indonesia. Ini menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukanlah pada integritas individu yang memegang jabatan, melainkan pada moral bangsa yang sudah bersifat kolektif.

Kekhawatiran ini semakin dalam setelah Mahfud MD mencatat dua komentar merisaukan dari tokoh nasional. Pertama, Ryaas Rasyid, mantan Menteri Otonomi Daerah dan Menpan RB, menyatakan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir ini, semuanya sudah rusak dari apa yang diperjuangkan di era reformasi. Ia bahkan merasa tidak tahu lagi cara memperbaiki keadaan yang moral dan etikanya sudah rusak, di mana demokrasi sudah rusak dan hukum sudah dijual belikan.

Kedua, Ikrar Nusabakti dalam ceramahnya di Yogyakarta juga menyampaikan hal yang serupa, menyebutkan bahwa kerusakan yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir ini tidak mungkin bisa diperbaiki bahkan dalam lima periode kepemerintahan. Lima periode pemerintahan ini setara dengan 25 tahun. Kondisi ini—yang disebut Mahfud MD sebagai realitas—menegaskan betapa parahnya situasi yang dihadapi bangsa.

Dr. Adian Husaini menyambut baik pandangan Mahfud MD dan setuju bahwa kerusakan bangsa memang terletak pada kerusakan moral dan akhlak yang sudah sistemik. Menanggapi pernyataan Mahfud MD tentang jangka waktu perbaikan yang sangat panjang (lima periode/25 tahun), beliau mengutip perkataan Imam Al-Ghazali yang terkenal dalam kitab Ihya Ulumuddin.

Inti dari kutipan Imam Al-Ghazali tersebut adalah rantai kerusakan yang dimulai dari puncak moralitas:

  • Rakyat rusak karena penguasanya rusak.
  • Penguasa rusak karena ulamanya (atau ilmuannya) rusak.
  • Ulama/ilmuwan rusak karena mereka cinta harta (hubb al-mal) dan cinta kedudukan (hubb al-jāh).

Dengan demikian, sumber utama segala kerusakan bermula di lembaga pendidikan tinggi. Lembaga ini, yang seharusnya melahirkan ilmuwan dan ulama, justru menjadi tempat di mana para ulama/dosennya terjangkit "cinta dunia" (hubb ad-dunya), hingga saling berebut harta dan jabatan, yang berujung pada fitnah, pecah belah, dan konflik. Kondisi kerusakan ilmu dan ulama seperti ini juga diingatkan oleh Imam Al-Ghazali karena pernah terjadi di masa beliau, seperti di Kampus Nizhamiyah, yang bahkan disebut berkontribusi pada musibah sejarah seperti pembantaian umat Islam di Masjid Al-Aqsa saat Perang Salib.

Meskipun kerusakan tampak parah dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk diperbaiki, Dr. Adian Husaini menegaskan bahwa perbaikan sangat mungkin dilakukan dan kita harus optimis serta tidak boleh menyerah.

Perbaikan harus dimulai dari akarnya: memperbaiki ilmuwan dan ulama. Ini pula yang menjadi landasan dan inspirasi bagi tokoh-tokoh besar seperti Imam Al-Ghazali dan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani. Keduanya tidak menyerah, melainkan membentuk madrasah (lembaga pendidikan) yang pada akhirnya melahirkan satu generasi baru, yaitu Jilid Salahuddin. Generasi inilah yang berhasil membawa kebangkitan umat Islam.

Indonesia adalah negeri yang kaya raya, negeri amanah, yang diwariskan oleh para ulama dan pejuang. Oleh sebab itu, korupsi, yang jelas-jelas melanggar hak seluruh rakyat dan merupakan pelanggaran moral-akhlak, harus dihentikan.

Dr. Adian Husaini menekankan bahwa jalan kebangkitan peradaban sudah ada modelnya, dan bangsa ini harus menjadi negeri yang hebat, mencapai cita-cita sebagai baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr (negeri yang baik dan mendapatkan ampunan Tuhan). Dengan semangat perbaikan akhlak yang serius, bangsa ini harus optimis bisa menyelesaikan masalahnya, sekalipun itu berat dan membutuhkan waktu yang panjang.

Link video lengkap: https://youtu.be/lMW3TGkzL9c

 

 

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait