MELANJUTKAN AMANAH MOHAMMAD NATSIR DALAM PENDIDIKAN TINGGI

MELANJUTKAN AMANAH MOHAMMAD NATSIR DALAM PENDIDIKAN TINGGI

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

            Ahad (17/7/2022) pagi ini, saya mengisi Kuliah Subuh di Masjid Pusdiklat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Tambun, Bekasi. Sebagian besar jamaahnya adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir. Kepada para jamaah, saya menyampaikan kilas sejarah perjuangan Mohammad Natsir dalam bidang pendidikan. Khususnya, dalam bidang pendidikan tinggi.

            Mohammad Natsir – secara formal – adalah lulusan SMA. Tetapi, pemikiran dan perjuangannya melebihi banyak profesor. Kini, banyak profesor bangga mengaku sebagai murid beliau. Itu terjadi, karena Pak Natsir menjalani proses pendidikan tinggi yang ideal. Yakni, pendidikan tinggi yang bertujuan membentuk manusia integral, atau manusia seutuhnya.

            Itu berbeda dengan banyak orang yang menjalani kuliah di Perguruan Tinggi, tetapi sejatinya tidak menjalani berpendidikan tinggi. Namanya “Universitas”, tetapi tidak mendidik para mahasiswanya menjadi manusia yang seutuhnya; manusia yang baik; yaitu manusia yang beradab.

            Kepada para mahasiswa khususnya,  saya mengajak untuk berjuang menyadarkan banyak orang yang Kampus STID Mohammad Natsir adalah “kampus terbaik”. InsyaAllah, kedepan, akan banyak yang berbondong-bondong memasuki kampus dakwah, dengan tujuan menjadi ilmuwan pejuang di jalan Allah. Menjadi ilmuwan pejuang perlu proses pendidikan yang serius.

            Pak Natsir berani memilih jalan pendidikannya sendiri. Ia yakin dengan pendidikan yag dijalaninya, meskipun ia tidak melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi. Tapi, ia langsung berguru kepada guru-guru terbaik, seperti A. Hassan, Syekh Ahmad Soorkati, dan Haji Agus Salim.

            Bukan hanya itu, Mohammad Natsir juga aktif mengajar sebagai guru dan menjalani aktivitas keorganisasian di Jong Islamieten Bond. Jadi, secara jiwa raga dan intelektual, Natsir ditempa dalam sebuah universitas bernama “Universitas Kehidupan”. Itulah universitas yang sebenarnya, yang mengintegrasikan proses aktivisme dan intelektualisme.

             Universitas Islam Indonesia (dulu bernama STI) berdiri pada 8 Juli 1945). Tujuh tahun sebelum itu, Mohammad Natsir sudah menulis artikel panjang di Majalah Pedoman Masyarakat, dengan judul “Sekolah Tinggi Islam”. “Kaum muslimin Indonesia haus akan pelajaran tinggi,” tulis Mohammad Natsir.

            Pak Natsir sudah menggariskan bahwa tujuan pendidikan menurut Islam adalah untuk melahirkan manusia-manusia yang baik. Yakni, hamba-hamba Allah yang baik (abdullah) dengan dasar Tauhid.

            ”Menjadi hamba Allah” adalah tujuan hidup manusia di atas dunia ini, oleh karena itu maka tujuan pendidikan pun tiada lain adalah pencapaian kualitas ”hamba Allah”. Untuk itu, Tauhid harus menjadi dasar pendidikan Islam dan menjadi ”hamba Allah” adalah cita-cita yang harus dicapai dari sebuah proses pendidikan. (Lihat: Said Tuhuleley, ”Catatan Lepas tentang Pendidikan Islam: Interpretasi Bebas Ide-ide Pendidikan Mohammad Natsir”, dalam buku Pak Natsir 80 Tahun, (editor: Endang Saifuddin Anshari dan M. Amien Rais), (Jakarta: Media Da’wah, 1988).

           

lanjut baca,

https://member.adianhusaini.id/member/blog/detail/melanjutkan-amanah-mohammad-natsir-dalam-pendidikan-tinggi

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait