INDONESIA EMAS HANYA MIMPI JIKA PENDIDIKAN TINGGI TIDAK BERUBAH SECARA MENDASAR

INDONESIA EMAS HANYA MIMPI  JIKA PENDIDIKAN TINGGI  TIDAK BERUBAH SECARA MENDASAR

 

Artikel Terbaru ke-2.276

Oleh: Dr. Adian Husaini

 

            Cita-cita Indonesia Emas tahun 2045 hanya akan menjadi mimpi jika Pendidikan Tinggi tidak berubah secara mendasar. Padahal, Presiden Prabowo Subianto berulang kali menyatakan, bahwa Indonesia harus menjadi negara kuat, negara hebat, yang disegani dunia. Rakyatnya harus cerdas, sehat, dan kuat.

            Banyak pakar dan pengamat pendidikan menyatakan, bahwa Indonesia akan lebih maju lagi, jika anak-anak Indonesia yang menjalani kuliah di Perguruan Tinggi semakin meningkat. Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi (APK-PT) di Indonesia pada 2024 mencapai 39,37 persen.

Angka itu bisa dibandingkan dengan APK PT Malaysia (43 persen), Thailand (49,29 persen), dan Singapura (91,09 persen). Jadi, dari 100 penduduk berusia 17-24 tahun, hanya 39 orang yang melanjutkan kuliah ke jenjang pendidikan tinggi.

            Jadi, dari segi jumlah saja, kita sudah kalah dengan negara-negara tetangga. Itu baru bicara angka! Dari aspek kualitas, kondisi pendidikan tinggi kita sebenarnya lebih pelik. Bukan rahasia lagi, banyak yang kuliah di perguruan tinggi hanya untuk mendapat gelar atau ijazah agar cepat dapat jabatan atau naik pangkat.

            Kementerian Pendidikan kita masih direpotkan dengan banyaknya perguruan tinggi fiktif yang tidak melaksanakan pendidikan. Jangan tanya soal kualitas. Lulusan sarjana S1 tidak memenuhi kualifikasi yang memadai. Di tengah-tengah merebaknya masalah kualitas pendidikan, muncul pula isu ijazah palsu yang bahkan menjadi trending topic di berbagai media sosial.

            Menghadapi perubahan besar dalam bidang sains dan teknologi, sudah sepatutnya Perguruan Tinggi kita berubah secara mendasar. Makna kemajuan bangsa dan strategi untuk mencapainya perlu dirumuskan dengan tepat. Jangan terlalu sederhana membuat indikator kemajuan hanya pada aspek kemajuan ekonomi. Kemajuan jiwa dan akhlak bangsa perlu lebih diprioritaskan.

            Di sinilah kita melihat pemandangan yang ajaib! Tidak sedikit Perguruan Tinggi Negeri (PTN) berlomba-lomba merekrut jumlah mahasiswa sebanyak-banyaknya. Ini jelas membahayakan kredibiltas pendidikan tinggi sebagai jenjang pendidikan terpenting untuk melahirkan calon-calon pemimpin bangsa ke depan.

            Indonesia Emas tahun 2045 hanya akan terwujud jika kualitas para pemimpinnya – di semua jenjang dan bidang – berkualitas tinggi. Kata “tinggi” dalam Pendidikan Tinggi jangan sekedar dimaknai sebagai jenjang tertinggi pendidikan formal. Tapi, kata “tinggi” di situ harusnya mencerminkan kualitas pendidikan yang benar-benar mendidik mahasiswa menjadi manusia yang mulia dengan derajat tinggi.

            Siapa manusia yang derajatnya tinggi? Itulah manusia yang beriman dan bertaqwa serta berakhlak mulia! Yakni, manusia yang adil dan beradab atau “insan adabi”. Karena itulah, UUD 1945 memerintahkan agar pendidikan kita membentuk manusia-manusia yang mulia seperti itu.

            Mohammad Natsir, Buya Hamka, Panglima Sudirman, dan banyak manusia hebat lainnya, tidak menjalani kuliah secara formal di Perguruan Tinggi. Tetapi, mereka menjalani pendidikan tinggi yang hebat. Mereka dididik langsung oleh guru-guru mereka yang hebat-hebat dengan adab dan ilmu yang berkualitas tinggi. Pendidikan tinggi yang mereka jalani bukanlah pendidikan kaleng-kaleng yang sekedar berpikir bagaimana bisa makan dan bisa hidup.

Lanjut baca,

https://member.adianhusaini.id/member/blog/detail/indonesia-emas-hanya-mimpi--jika-pendidikan-tinggi--tidak-berubah-secara-mendasar

 

 

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait