KASUS MASKER, KEDEPANKAN SIKAP ILMIAH DAN UKHUWAH

KASUS MASKER, KEDEPANKAN SIKAP ILMIAH DAN UKHUWAH

 

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Alhamdulillah, kasus "masker" di satu masjid di Bekasi, akhirnya diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Sebelumnya, sempat beredar video perdebatan keras antara seorang jamaah masjid bermasker, dengan beberapa orang yang berbeda pendapat. Video itu pun mendapatkan berbagai respon yang keras.

Tentu saja, situasi itu sangat menganggu kesucian bulan Ramadhan. Kata-kata kasar dan aneka hinaan tak sepatutnya berhamburan di bulan suci ini. Dari mediasi yang dilakukan aparat kepolisian dan Kemenag Bekasi, terungkap bahwa memang ada perbedaan pandangan dalam memahami soal pemakaian "masker" dalam shalat. Juga, soal menjaga jarak dalam shalat berjamaah.

Kasus masker dan jarak shaf shalat saat pandemi Covid-19 sebenarnya berakar pada masalah ilmu. Sebagian Ustadz ada yang berceramah bahwa umat Islam tidak sepatutnya mengikuti "mazhab WHO" dalam shalat. Saya pun pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu, dari seorang ustadz di Jawa Timur.

Saya jawab pertanyaan itu dengan menguraikan terlebih dahulu konsep ilmu dalam Islam. Sebab, Islam adalah agama yang berdasarkan ilmu. Karena itulah, pada bagian awal al-Aqaid an-Nasafiyah, dijelaskan tentang "sebab-sebab manusia meraih ilmu". Itu menunjukkan pentingnya setiap muslim memahami konsep ilmu dalam Islam.

Sebab-sebab meraih ilmu (epistemologi keilmuan) dalam Islam ada tiga: panca indera, akal, dan khabar shadiq. Konsep ilmu dalam Islam ini berbeda dengan konsep ilmu sekuler, yang berhenti pada panca indera dan akal. Jadi, Islam mengakui ilmu empiris (empirical knowledge), ilmu rasional (rational knowledge), dan ilmu wahyu (revealed knowledge).

Lanjut baca,

https://member.adianhusaini.id/member/blog/detail/kasus-masker,-kedepankan-sikap-ilmiah-dan-ukhuwah

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait

Tinggalkan Komentar