Dunia pendidikan Indonesia belakangan ini dikejutkan oleh data yang menunjukkan jebloknya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SMA di seluruh tanah air.
Adianhusaini.id, Jakarta-- Berdasarkan skala 100, rata-rata skor nasional berada pada angka yang cukup memprihatinkan: Matematika di angka 24,93, Bahasa Inggris 24,93, dan Bahasa Indonesia 55,38. Angka-angka ini segera memicu alarm keras bagi para pemangku kebijakan. Kepala BSKAP Kemendikdasmen bahkan menyebut bahwa rendahnya nilai TKA adalah cerminan buruknya kualitas pendidikan nasional yang terlalu fokus pada angka dan hafalan, bukan pada daya nalar.
Namun, benarkah angka-angka ini mencerminkan realitas pendidikan kita secara utuh? Dr. Adian Husaini, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) sekaligus pakar pendidikan, memberikan perspektif kritis yang mendalam. Menurutnya, kegaduhan ini tidak perlu disikapi secara berlebihan, namun harus menjadi momentum untuk membedah problem fundamental dalam falsafah pendidikan kita.
TKA dan Misinterpretasi Kualitas
Dr. Adian menekankan bahwa nilai TKA yang rendah sebaiknya tidak terburu-buru dijadikan vonis tunggal atas kualitas pendidikan nasional. "Yang jelek itu adalah hasil tes TKA SMA, jangan langsung ditafsirkan macam-macam," ujarnya. Ia menyoroti bahwa kemampuan seorang siswa dalam menjawab soal pilihan ganda seringkali tidak berbanding lurus dengan kecerdasan yang sebenarnya. Seorang anak bisa saja gemar membaca, mampu menulis dengan baik, dan memiliki komunikasi yang unggul, namun tetap kesulitan saat berhadapan dengan format soal TKA yang spesifik.
Lebih jauh, ia mengkritisi terminologi "mata pelajaran wajib" untuk Bahasa Inggris, Matematika, dan Bahasa Indonesia dalam konteks TKA. Menurutnya, penggunaan istilah ini sering kali membingungkan karena pada faktanya TKA itu sendiri bersifat pilihan (sukarela) bagi siswa, namun dampaknya dipaksakan menjadi syarat masuk perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur prestasi (SNBP). Inilah yang kemudian menimbulkan kecemasan luar biasa bagi orang tua dan siswa.
Mitos Bahasa Inggris dan Standar Internasional
Salah satu poin menarik yang disampaikan Dr. Adian adalah mengenai kemampuan Bahasa Inggris. Ia berpendapat bahwa ketidakmampuan berbahasa Inggris tidak seharusnya menjadi sumber kerisauan yang berlebihan. Belajar bahasa asing di sekolah selama bertahun-tahun sering kali tidak optimal karena metode yang kurang tepat. Ia mencontohkan pengalamannya saat berkeliling Inggris; di sana ia menemukan banyak orang asli Inggris yang mungkin dianggap "biasa saja" secara intelektual namun fasih berbahasa Inggris karena itu adalah bahasa ibu mereka.
"Bisa berbahasa Inggris bukan berarti otomatis pintar," tegasnya. Baginya, daripada menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan hasil yang minim di sekolah formal, metode kursus intensif atau lingkungan imersif jauh lebih efektif dalam penguasaan bahasa. Hal serupa juga berlaku pada standar internasional seperti ranking PISA (Programme for International Student Assessment). Rendahnya peringkat literasi dan numerasi Indonesia di PISA sebenarnya sudah lama diprediksi dan tidak perlu menjadi kejutan baru yang memicu kepanikan administratif.
Akar Masalah: Siapa yang Mau Jadi Guru?
Dr. Adian mengajak publik untuk melihat masalah yang lebih mendasar: kualitas guru. Pemerintah sering kali menekankan pentingnya kualitas guru sebagai solusi atas rendahnya hasil belajar. Namun, di saat yang sama, profesi guru jarang sekali menjadi pilihan utama bagi siswa-siswa terbaik di SMA.
"Anak-anak SMA yang paling pintar hampir tidak ada yang mau jadi guru. Jadi guru itu sering kali terpaksa," ungkapnya jujur. Ia mengkritik paradoks di mana pemerintah membanggakan kampus-kampus top, namun jarang sekali menempatkan institusi pendidikan guru sebagai kampus favorit utama. Selama profesi guru dianggap melelahkan secara administratif dan tidak menarik bagi talenta-talenta terbaik bangsa, maka bicara soal peningkatan kualitas pendidikan akan terus berputar dalam lingkaran yang sama.
Terjebak dalam Obsesi PTN Favorit
Keresahan nasional terhadap nilai TKA ini juga berakar pada obsesi masyarakat terhadap status "PTN Favorit". Dr. Adian melihat adanya kesalahan fatal dalam memaknai kesuksesan setelah lulus SMA. Saat ini, sekolah atau pesantren dianggap tidak kredibel jika hanya sedikit lulusannya yang diterima di PTN ternama.
Padahal, daya tampung PTN hanya sekitar 10 persen dari total 2 juta lulusan SMA setiap tahunnya. "Artinya, 9/10 lulusan kita langsung dianggap tidak sukses karena tidak masuk PTN," kritiknya. Ia menyayangkan budaya di mana sekolah memberikan ucapan selamat secara masif bagi mereka yang lolos PTN, namun seolah mengabaikan mereka yang memilih jalur lain atau bahkan yang melanjutkan ke perguruan tinggi milik institusi mereka sendiri. Pandangan ini telah mengerdilkan makna kesuksesan hidup hanya sebatas kursi di universitas negeri.
Menuju Pendidikan Berbasis Karakter dan Literasi Sejati
Sebagai solusi, Dr. Adian menyarankan agar pemerintah tidak terburu-buru menjadikan nilai TKA tahun ini sebagai basis penilaian SNBP untuk menghindari ketidakadilan. Ia mengusulkan agar fokus pendidikan dikembalikan pada dua hal utama: Budaya Literasi dan Akhlak.
Budaya literasi yang sesungguhnya bukanlah tentang kemampuan menjawab soal ujian, melainkan tentang menumbuhkan kegemaran membaca, menulis, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat secara kritis. Hal ini sulit dicapai jika sekolah masih dibebani dengan beban administratif yang berat.
Terakhir, Dr. Adian memberikan usul yang provokatif namun esensial. Jika Indonesia benar-benar ingin sukses, tes yang paling penting dilakukan bukan hanya Tes Kemampuan Akademik (TKA), melainkan "Tes Kompetensi Akhlakul Karimah".
"Harus ada tes kejujuran, tes ibadah, kedisiplinan, hingga tes kemampuan membaca Quran. Itulah yang benar-benar akan menentukan kesuksesan dunia dan akhirat," pungkasnya. Baginya, pendidikan harus kembali kepada falsafah dasarnya: membentuk manusia yang beradab dan berakhlak, bukan sekadar mencetak angka-angka statistik di atas kertas ujian.
(Berdasarkan Pandangan Dr. Adian Husaini di Youtube Channel: https://youtu.be/mwL3vWAOzMs )



