Menjelang hadirnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, umat Islam diajak untuk menata ulang niat dan persiapan. Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah momentum besar untuk melakukan jihad fisabilillah.
Adianhusaini.id, Jakarta-- Namun, jihad yang dimaksud di sini bukanlah kontak fisik, melainkan sebuah perjuangan fundamental: mujahadatun nafs atau jihad melawan hawa nafsu.
Empat Tingkatan Jihad
Mengutip pemikiran ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Zadul Ma’ad, Dr. Adian Husaini menjelaskan bahwa jihad memiliki tingkatan (maratibul jihad) yang sistematis. Terdapat empat domain utama dalam berjihad:
- Jihad melawan hawa nafsu.
- Jihad melawan setan.
- Jihad melawan kaum kuffar.
- Jihad melawan kaum munafikin.
Fokus utama dalam menyambut Ramadan adalah poin pertama, yakni menundukkan ego dan keinginan rendah manusia. Ibnu Qayyim merinci bahwa jihad melawan hawa nafsu ini mencakup empat aktivitas utama: bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, mengamalkan ilmu tersebut, mendakwahkannya, serta bersabar atas segala konsekuensi atau ujian yang muncul dari proses dakwah tersebut.
Ramadan sebagai Model Pendidikan Ideal
Rasulullah SAW bersabda, "Seorang mujahid adalah orang yang berjuang melawan hawa nafsunya" (HR. Tirmidzi). Dalam konteks ini, Ramadan hadir sebagai kurikulum pendidikan terbaik bagi manusia. Dr. Adian menyebutnya sebagai model pendidikan yang ideal karena bersifat integral—mulai dari bangun tidur hingga kembali terlelap.
Tujuan dari pendidikan Ramadan ini adalah membentuk al-insan al-kulli atau manusia paripurna. Mengacu pada pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dan tokoh nasional Mohammad Natsir, tujuan akhirnya adalah melahirkan manusia yang bertauhid, menjadi hamba Allah (Abdullah) yang seutuhnya, serta memiliki karakter yang jujur, berani, bijak, dan tidak sombong.
Ada tiga pilar utama yang menjadi misi kenabian (sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 151 dan Al-Jumu'ah: 2) yang harus dioptimalkan selama Ramadan:
- Tilawah: Interaksi intensif dengan ayat-ayat Allah (Al-Qur'an).
- Tazkiah: Pensucian jiwa dan raga dari penyakit hati (seperti dengki dan sombong) serta penyakit badan.
- Taklim: Pengisian diri dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
Menghadapi Arus Peradaban Syahwat
Urgensi jihad melawan nafsu di era modern menjadi sangat krusial karena tantangan peradaban saat ini. Dr. Adian menyoroti bahwa peradaban modern cenderung mengutamakan kebebasan tanpa batas dan pemuasan syahwat. Kehidupan seringkali hanya berpindah dari satu kesenangan indrawi ke kesenangan lainnya, yang dalam Al-Qur'an (QS. Muhammad: 12) diibaratkan seperti cara hidup hewan ternak.
"Peradaban hari ini memuja syahwat secara berlebihan, bukan mengendalikannya dengan akal sehat. Bahkan, cenderung melupakan atau menafikan kehidupan akhirat serta membangkang terhadap aturan Tuhan," ungkap Ketua Umum DDII tersebut.
Oleh karena itu, Ramadan menjadi benteng "jihad peradaban". Dengan melakukan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa), seorang Muslim dapat melepaskan diri dari belenggu materialisme dan hedonisme. Allah SWT memberikan jaminan dalam firman-Nya bahwa siapa pun yang mensucikan jiwanya pasti akan beruntung, dan siapa pun yang mengotorinya akan binasa.
Produk Akhir: Pribadi Bertakwa
Output atau produk nyata dari jihad Ramadan ini adalah lahirnya pribadi yang bertakwa yang mewujud dalam akhlakul karimah. Takwa bukan sekadar konsep abstrak, melainkan kesadaran mendalam bahwa hidup di dunia hanyalah sementara dan setiap langkah harus mencari rida Allah.
Ciri-ciri keberhasilan jihad Ramadan terlihat pada perubahan perilaku pasca-bulan suci:
- Menjadi manusia yang lebih jujur dan tidak malas.
- Memiliki keberanian moral dalam kebenaran.
- Bersikap bijaksana dan tidak bertindak semena-mena (ngawur).
- Terbebas dari rasa dengki dan kesombongan.
Menutup pesannya, Dr. Adian Husaini mendoakan agar umat Islam senantiasa diberikan keselamatan iman, kesehatan, serta keberkahan rezeki dalam menyambut Ramadan 1447 H. Inilah kesempatan berharga dari Allah untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih dekat dengan Sang Pencipta.



