SEMOGA, NANTI ADA JURUSAN KEDOKTERAN DAN TAFSIR AL-QURAN DI UGM YOGYA  

SEMOGA, NANTI ADA JURUSAN KEDOKTERAN DAN TAFSIR AL-QURAN DI UGM YOGYA   

 

Artikel ke-1.846

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

            Pada 29 Maret 2024, saya mendapat kehormatan untuk menyampaikan khutbah Jumat dan ceramah tarowih di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dalam dua acara itu, saya membahas tema seputar pendidikan. Khususnya, tentang Ramadhan sebagai puncak pendidikan dan tentang keunggulan konsep pendidikan Rasulullah saw.

            Dalam ceramah tarowih – saat membahas keunggulan konsep dan praktik pendidikan Nabi Muhammad saw dan para ulama di Indonesia – saya menyelipkan satu harapan indah. Bahwa, semoga suatu ketika nanti, di UGM akan berdiri suatu jurusan atau program studi baru, bernama “Prodi Kedokteran dan Ilmu Tafsir al-Quran”. Dari prodi inilah, kita berharap akan lahir ulama-ulama tafsir yang sekaligus memiliki ilmu dan ketrampilan sebagai dokter.

            Harapan ini sebenarnya sangat ilmiah. Kita bisa menyimak kembali sejarah berdirinya kampus UGM. Pada tahun 1960, Presiden mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres)  No 11 tahun 1960 tentang Pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN).

Dalam Perpres ini dicantumkan pertimbangan pertama: “bahwa sesuai dengan Piagam Djakarta tertanggal 22 Djuni 1945, yang mendjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan merupakan rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut, untuk memperbaiki dan memadjukan pendidikan tenaga ahli Agama Islam guna keperluan Pemerintah dan masjarakat dipandang perlu untuk mengadakan Institut Agama Islam Negeri”.

            Pada penjelasan terhadap Perpres 11/1960 ditulis : ‘’Pada waktu Pemerintah Republik Indonesia berpusat di Jogjakarta sebagai penghargaan dari Pemerintah didjadikan Kota Universitas. Pada golongan Nasional diberikan Universitas Gadjah Mada jang waktu itu adalah usaha swasta, kemudian didjadikan Universitas Negeri (Peraturan Pemerintah No. 34 tahun 1950), jang diambilnya dari Fakultas Agama Universitas Islam Indonesia.’’

            Dalam situs resminya, ugm.ac.id, disebutkan, bahwa perguruan tinggi ini merupakan gabungan dari beberapa sekolah tinggi yang telah lebih dulu didirikan, di antaranya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada, Sekolah Tinggi Teknik, dan Akademi Ilmu Politik yang terletak di Yogyakarta, Balai Pendidikan Ahli Hukum di Solo, serta Perguruan Tinggi Kedokteran Bagian Praklinis di Klaten, yang disahkan dengan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949 tentang Peraturan Penggabungan Perguruan Tinggi menjadi Universiteit.

          Jadi, sesuai dengan penjelasan Perpres 11/1960, UGM didirikan sebagai hadiah kepada golongan nasional. Sedangkan IAIN didirikan sebagai hadiah kepada golongan Islam. Pertimbangan pendirian IAIN Yogya adalah: “bahwa sesuai dengan Piagam Djakarta tertanggal 22 Djuni 1945, yang mendjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan merupakan rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut, untuk memperbaiki dan memadjukan pendidikan tenaga ahli Agama Islam guna keperluan Pemerintah dan masjarakat dipandang perlu untuk mengadakan Institut Agama Islam Negeri”.

            Jadi, itulah latar belakang pendirian IAIN dan UGM di Yogyakarta. Peristiwa itu bisa dikatakan sudah jaman dulu (jadul). Sudah lebih dari 60 tahun lalu. Zaman kini sudah berubah. IAIN Yogya sudah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), dengan sejumlah Fakultas Sains.

Lanjut baca,

SEMOGA, NANTI ADA JURUSAN KEDOKTERAN DAN TAFSIR AL-QURAN DI UGM YOGYA (adianhusaini.id)

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait